MENAFAKURI RAYAP
By : Unknown
MENAFAKURI
RAYAP
Sungguh indahnya jikalau kita mampu mengambil aneka hikmah dari makhluk
apapun yang Allah SWT ciptakan di muka bumi ini. Rayap, misalnya, adalah salah
satu makhluk yang selama ini kita anggap lemah, hina, dan menjijikan. Akan
tetapi, sekiranya kita lebih bijak, maka kita pun akan dapat meluangkan waktu
dan kepedulian kita untuk berpikir tentang peranan dan manfaatnya bagi kita
semua, yang mungkin selama ini sangat terabaikan dari perhatian kita.
Peran rayap tercatat dalam Alquran terekam saat meninggalnya Nabi
Sulaeman a.s. Waktu itu, dengan karunia-Nya beliau meninggal tatkala berdiri
memegang tongkatnya. Luar biasanya lagi, tidak ada satu makhlukpun yang
mengetahui bahwa Nabi Sulaeman telah meninggal. Hingga suatu peristiwa
menunjukkan kematiannya, yaitu ketika beliu jatuh tersungkur akibat tongkat
yang menopangnya hancur dimakan rayap (QS. 34:14). Sebagai organime pemakan
kayu (selulosa), itulah memang sebagian dari misi keberadaan rayap; makan kayu.
Bagaimana rayap mampu melumat kayu? Kayu merupakan produk dari tumbuhan.
Tersusun dari unit-unit anhidroglukopiranosa yang bersambungan membentuk rantai
molekul. Unit-unit itu terikat dengan ikatan glikosidik. Sebagai polimer, kayu
melimpah keberadaanya di dunia, terdapat hampir 26,5 x 1010 ton. Manusia
memanfaatkannya dalam berbagai bentuk penggunaan (kertas, kain, bahan bakar,
dll) tetapi tak mampu menggunakannya sebagai sumber nutrisi (makanan).
Sebaliknya rayap mampu mencerna selulosa sebagai sumber nutrisinya.
Manusia sendiri tidak mampu mencernakan selulosa--bagian berkayu dari
sayuran yang kita makan, akan dikeluarkan lagi--, sedangkan rayap mampu
melumatkan dan menyerapnya sehingga sebagian besar ekskremen hanya tinggal
lignin-nya saja. Keadaan menjadi jelas setelah ditemukan berbagai protozoa
flagellata dalam usus bagian belakang dari berbagai jenis rayap (terutama rayap
tingkat rendah: Mastotermitidae, Kalotermitidae dan Rhinotermitidae), yang
ternyata berperan sebagi simbion untuk melumatkan selulosa sehingga rayap mampu
mencernakan dan menyerap selulosa. Bagi yang tidak memiliki protozoa seperti
famili Termitidae, bukan protozoa yang berperan tetapi bakteria--dan bahkan
pada beberapa jenis rayap seperti Macrotermes, Odontotermes dan Microtermes
memerlukan bantuan jamur perombak kayu yang dipelihara di "kebun
jamur" dalam sarangnya.
Makanan utamanya adalah kayu atau bahan yang terutama terdiri atas
selulosa. Dari perilaku makan yang demikian, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa
rayap termasuk golongan makhluk hidup perombak bahan mati yang sebenarnya
sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan dalam ekosistem kita. Mereka
merupakan konsumen primer dalam rantai makanan yang berperan dalam kelangsungan
siklus beberapa unsur penting seperti karbon dan nitrogen.
Dari 2500 jenis rayap di dunia, 200 jenis di antaranya terdapat di Indonesia .
Sembilan koma lima
persen yang ada di Indonesia
tadi justru sangat bersahabat dengan manusia. Sedangkan lima persen rayap lainnya menjadi pengganggu
kehidupan manusia, yaitu jenis Cryptotermes curvidnathas, Schedorhinotermes
Javanica, Macrotermes gilvus, Cryptotermes cynocepha, dan Microtermes
inspiparis. Sikap bersahabat ini karena keberadaan rayap di suatu tempat dapat
menjadi indikator kesuburan lahan di lokasi tersebut. Tiada lain karena rayap
memang mampu menyuburkan lahan yang diringgalinya. Seekor rayap dapat
diumpamakan sebuah bioreaktor yang mampu melumatkan sampah, kayu, kertas dan
bahan lainnya, yang terdapat di dalam dan permukaan tanah.
Uniknya, rayap sebenarnya termasuk binatang purba karena sudah ada sejak
200 juta tahun silam, diduga lebih tua dari manusia. Dari waktu ke waktu jumlah
rayap terus meningkat mengingat peningkatan jumlah rumah karena meningkatnya
jumlah penduduk. Ditambah, hutan sebagai habitat asli rayap, juga mulai
berkurang karena dibuka untuk lahan pertanian dan perumahan. Karena tidak ada
ranting sebagai bahan makanan rayap, maka kusen pintu, jendela, sampai perabot
rumahlah yang jadi sasaran.
Dari 4000 jenis kayu yang ada
di Indonesia, hanya sekitar 10 persen saja yang tahan terhadap serangan rayap,
diantaranya kayu ulin, merbau, sengon laut, dan kayu laut. Kayu-kayu tersebut
memiliki zat ekstraktif yang bersifat racun bagi jamur dan rayap. Sebetulnya
semua jenis kayu memiliki zat tersebut, namun zat itu bisa habis tercuci oleh
bahan pelarut umum, seperti air hujan, metanol, air panas, air dingin, alkohol
dan sebagainya.
Terdapat keistimewaan yang luar biasa dari binatang ini, dari
keanekaragaman jenisnya sampai nilai manfaatnya bagi hidup dan kehidupan.
Kemampuan dan nilai manfaat rayap ini, mustahil dijelaskan dengan serangkaian
peristiwa kebetulan sebagaimana anggapan teori evolusi. Peristiwa kebetulan
tidak mampu memunculkan sejumlah mekanisme sempurna ini secara bersamaan.
Manusia, dengan akal dan ilmunya, tidak akan percaya bahwa peristiwa kebetulan
memunculkan desain ini. Rayap telah Allah ciptakan sebagai bagian dari
rancangan seluruh alam ini uamh didesain dengan Maha Sempurna.
Kelebihan nilai manfaat binatang yang satu ini adalah perwujudan ilmu
yang Mahaluas dari Sang Pencipta. Allah, Penguasa Seluruh Alam, adalah Pencipta
segala sesuatu. Dan seluruh makhluk hidup memperlihatkan tanda-tanda penciptaan
sempurna oleh Allah. "Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang
yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) untuk kaum yang meyakini". (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 4) ***
(Sumber : Jurnal MQ Vol. 1/No.10/Februari
2002)
Tag :
Artikel,
5 Bola Kehidupan
By : Unknown
5 Bola Kehidupan
Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan
dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bola
tersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman
dan Spirit dan kita harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di
udara. Kita akan segera mengerti bahwa ternyata "Pekerjaan" hanyalah
sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul
kembali. Tetapi empat bola lainnya yaitu Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit
terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat
terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping. Dan
ingatlah mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya. Kita harus
memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya
Bagaimana caranya?
- Jangan
rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain.
Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita
special.
- Jangan
menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya
seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya,
hidup menjadi kurang berarti
- Jangan
biarkan hidup kita terpuruk di 'masa lampau' atau dalam mimpi masa depan.
Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu
hidupmu.
- Jangan
menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Tidak ada yang
benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.
- Janganlah
takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah
yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.
- Jangan
takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk
belajar bagaimana menjadi berani.
- Jangan
berusaha untuk mengunci cinta dalam hidupmu dengan berkata "tidak
mungkin saya temukan". Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah
dengan memberinya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan
menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar
cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya 'sayap'.
- Jangan
lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk
merasa dihargai.
- Jangan
takut untuk belajar sesuatu. Ilmu pengetahuan adalah harta karun yang
selalu dapat kita bawa kemanapun tanpa membebani.
Dan akhirnya :
MASA LALU adalah SEJARAH , MASA DEPAN merupakan MISTERI dan
SAAT INI adalah KARUNIA. Itulah kenapa dalam bahasa Inggris SAAT INI
disebut "The Present".
Tag :
Artikel,
Kisah 5 Perkara Aneh
By : Unknown
Kisah 5
Perkara Aneh
Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu
ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang
bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar
suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada
suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki
keluar dari rumah pada waktu pagi menghadap ke barat. Engkau dikehendaki
berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau
sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan,
yang kelima; larilah engkau daripadanya."
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke
barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna
hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan
pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat
dilaksanakan." Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan
hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu
mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun
mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis
bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan
sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan,
lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian
ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun
menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi
itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan
perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar
semula dari tempat ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung
elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil
itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku." Mendengar rayuan
burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan
dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung elang itu
pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku
sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah
engkau patahkan harapanku dari rezekiku."
Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat,
yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan
perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu
memotong sedikit daging pahanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah
mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari
dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama
kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun
bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghirup bau yang menyakitkan
hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke
rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya
Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di
dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."
Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahwa,
"Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar
seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta
menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu. Kedua;
semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak
jua. Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat
kepadanya. Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi
membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Kelima; bau yang busuk itu
ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang
sedang duduk berkumpul membuat ghibah."
Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan
dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam
kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari
ialah menggunjing orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka menggunjing
orang lain. Haruslah kita ingat bahawa menggunjing seseorang itu akan
menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti
ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah
dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang
Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."
Maka berfirman Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang
menggunjing tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahawa
walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan
merugikan diri kita sendiri. Oleh karena itu, hendaklah kita jangan
menggunjingkan orang walaupun ia benar.
Tag :
Artikel,
KEHIDUPAN SEHARI-HARI YANG ISLAMI
By : Unknown
KEHIDUPAN SEHARI-HARI YANG ISLAMI
Oleh Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah
Saudaraku....
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.
Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, supaya kita bisa mengambil mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.
Saudaraku...
Risalah ini dinukilkan dari buku saku yang sangat bagus dan menawan yaitu Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Fariq Gasim Anuz semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalasnya dengan pahala dan surganya.
Kehidupan Sehari-hari Yang Islami
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.
Oleh Syaikh Abdullah bin Jaarullah bin Ibrahim Al-Jaarullah
Saudaraku....
Dengan penuh pengharapan bahwa kebahagian dunia dan akhirat yang akan kita dapatkan, maka kami sampaikan risalah yang berisikan pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan anda untuk direnungkan dan di jawab dengan perbuatan.
Pertanyaan-pertanyaan ini sengaja kami angkat kehadapan anda dengan harapan yang tulus dan cinta karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, supaya kita bisa mengambil mannfaat dan faedah yang banyak darinya, disamping itu sebagai bahan kajian untuk melihat diri kita, sudah sejauh mana dan ada dimana posisinya selama ini.
Saudaraku...
Risalah ini dinukilkan dari buku saku yang sangat bagus dan menawan yaitu Zaad Al-Muslim Al-Yaumi (Bekalan Muslim Sehari-hari) dari hal. 51 - 55, bab Hayatu Yaumi Islami yang diambil dari kitab Al-Wabil Ash-Shoyyib oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dan diterjemahkan oleh saudara kita Fariq Gasim Anuz semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalasnya dengan pahala dan surganya.
Kehidupan Sehari-hari Yang Islami
1.
Apakah anda selalu shalat Fajar berjama'ah di masjid setiap
hari .?
2.
Apakah anda selalu menjaga Shalat yang lima waktu di masjid .?
3.
Apakah anda hari ini membaca Al-Qur'an .?
4.
Apakah anda rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan
Shalat wajib .?
5.
Apakah anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan
sesudah Shalat wajib .?
6.
Apakah anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang
anda baca .?
7.
Apakah anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur .?
8.
Apakah anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa
dan kedahsyatannya .?
9.
Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
sebanyak tiga kali, agar memasukkan anda ke dalam Surga .? Maka sesungguhnya
barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata :"Wahai Allah Subhanahu
wa Ta'ala masukkanlah ia ke dalam Surga".
10.
Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali .? Maka
sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata :"Wahai
Allah peliharalah dia dari api neraka". (Berdasarkan hadits Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya :"Barangsiapa yang memohon
Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata :"Wahai Allah
masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada
Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata
:"Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka". (Hadits Riwayat Tirmidzi
dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).
11.
Apakah anda (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam .?
12.
Apakah anda pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang
tidak baik .?
13.
Apakah anda telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa
dan bergurau .?
14.
Apakah anda (hari ini) menangis karena takut kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala .?
15.
Apakah anda selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari .?
16.
Apakah anda (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah
Subhanahu wa ta'ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pen) .?
17.
Apakah anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
dengan benar untuk mati Syahid .? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya :"Barangsiapa yang memohon
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah
Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia
meninggal di atas tempat tidur". (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu
Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).
18.
Apakah anda telah berdo'a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
agar ia menetapkan hati anda atas agama-Nya. ?
19.
Apakah anda telah mengambil kesempatan untuk berdo'a kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala di waktu-waktu yang mustajab .?
20.
Apakah anda telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami
agama .? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang
dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena banyak
juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam
yang benar, pent).
21.
Apakah anda telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah .? Karena setiap mendo'akan
mereka anda akan mendapat kebajikan pula.
22.
Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala (dan
bersyukur kepada-Nya, pent) atas nikmat Islam .?
23.
Apakah anda telah memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat
mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya .?
24.
Apakah anda hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin
dan orang-orang yang membutuhkannya .?
25.
Apakah anda dapat menahan marah yang disebabkan urusan
pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta'ala saja .?
26.
Apakah anda telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri
sendiri .?
27.
Apakah anda telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena
Allah Subhanahu wa Ta'ala .?
28.
Apakah anda telah menda'wahi keluarga, saudara-saudara,
tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri anda .?
29.
Apakah anda termasuk orang yang berbakti kepada orang tua
.?
30.
Apakah anda mengucapkan "Innaa Lillahi wa innaa
ilaihi raji'uun" jika mendapatkan musibah .?
31.
Apakah anda hari ini mengucapkan do'a ini : " Allahumma
inii a'uudubika an usyrika bika wa anaa a'lamu wastagfiruka limaa la'alamu =
Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau
sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang
tidak aku ketahui". Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah
Subhanahu wa Ta'ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil.
(Lihat Shahih Al-Jami' No. 3625).
32.
Apakah anda berbuat baik kepada tetangga .?
33.
Apakah anda telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad,
dan dengki .?
34.
Apakah anda telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat,
mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada
manfaatnya .?
35.
Apakah anda takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal
penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian .?
36.
Apakah anda selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan
kesalahan .?
Saudaraku
..Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas dengan perbuatan, agar kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat, inysa Allah.
Yukk bersama Dani anggara kitaa
istiqomah untuk berda’wah
Tag :
Artikel,
Kasih Sayang Seorang Ibu
By : Unknown
Kasih Sayang Seorang Ibu
Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak. "NGGAK MAU!!"
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah.
Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.
Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.
Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.
Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih sayang.
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.
Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.
Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah.
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.
Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.
Sebagai balasannya, kau berteriak. "NGGAK MAU!!"
Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.
Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.
Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.
Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.
Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.
Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.
Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.
Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.
Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.
Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.
Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.
Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah.
Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.
Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.
Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan.
Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.
Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.
Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"
Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.
Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.
Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.
Tag :
Artikel,
INDAHNYA LINGKUNGAN BERSIH
By : Unknown
INDAHNYA
LINGKUNGAN BERSIH
Cobalah pikirkan bagaimana perasaan kita bila melihat wajah yang cantik
namun disudut mata dan di bawah hidungnya (maaf) ada kotorannya? Giginya yang
rapih tapi ternyata kotor kekuning-kuningan karena jarang dibersihkan?
Bagaimana pula melihat baju yang mahal tapi kotor, kusut, dan tak rapih? Lalu,
bagaimana pula penilaian saudaraku tentang rumah megah tapi tak terawat, kotor
bau, rumputnya tak terurus, kamar mandi mewahnya bau dan licin serta sudah
menguning? Niscaya pudarlah segala keindahan dengan kekotoran.
Memang kotor itu jelek, kotor itu tak nyaman, kotor itu biang penyakit,
kotor itu merusak keindahan. Dan yang pasti kotor tidak boleh lagi menjadi
bagian dari hidup kita. Ayo, sahabatku sekalian, jangan dulu sibuk membeli yang
mahal atau yang bagus. Lebih baik kita bersihkan saja yang ada, kita rapihkan,
lalu bagi-bagi tugas niscaya kita akan kaget betapa rumah kita, kampung kita,
mesjid kita jauh lebih indah dan menyenangkan, dan jangan heran pula kalu nanti
nama baik kampung kita akan jauh lebih bergengsi lebih terhormat karena memang
salah satu ciri hidup terhormat sangat menghargai kebersihan
Memang tak ada kota yang bersih
sebelum warganya senang kepada kebersihan, sebelum rumah warganya bersih. Dan
sebenarnya kita dapat memulainya saat ini juga, insya Allah.
Dan ketahuilah bahwa tikus, ular , babi, lalat, atau juga belatung senangnya
hidup ditempat kotor!
Selamat berbahagia bagi siapapun yang rumahnya terasa lebih bersih,
rapih, biar saja barang yangada sederhana dan murah yang penting rapih bersih
dan barokah!
Bila membutuhkan bukti lain, ada kisah darma wisata orang Singapura.
Mereka terdiri dari para pelajar dan mahasiswa yang berkeliling ke
universitas-universitas dan tempat wisata di negara kita. Suatu saat mereka
berkunjung ke sebuah kampus, lalu mereka terbengong-bengong melihat para
mahasiswa kita yang mendampingi mereka memakan kacang tanah dan dengan
seenaknya membuang sampah dimana saja. Mereka hampir tak percaya bagaimana
mungkin seorang intelek mengotori sendiri kampusnya? Anda mungkin ingin tahu
bagaimana cara mereka memakan kacang tanah, ternyata kulit kacang tersebut
mereka kumpulkan di sakunya masing-massing. Nampaknya, mereka sangat tidak
terbiasa untuk mengotori tempat manapun yang mereka kunjungi!
Nampaknya, daripada kita mengotori hati dengan menyalahkan orang lain
lebih baik mulai sekarang bertekadlah untuk tidak menyusahkan orang lain atau
mempermalukan kota sendiri. Jangan buang sampah sembarangan, kalau kita belum
sanggup meemungut sampah dan membersihkan, setidaknya jangan ada sampah yang
kita tebarkan tidak pada tempatnya. Rumus sederhananya "kalau tak bisa
membantu jangan menyusahkan."
Siapkanlah selalu kantung keresek plastik kecil disaku kita, dan tak
pernah terjadi lagi sampah kita buang sembarangan. Tak masalah saku kita kotor
sedikit dari pada berbuat dzalim mengotori kota kesaayangan kita ini.
Dan kita pun harus mulai menumbuhkan keberanian untuk mengingatkan
siapapun agar tidak mengotori lingkungan di sekitar kita dimanapun. Tentu saja
dengan cara yang paling sopan, misalnya dengan mengatakan sambil tersenyum
ramah "Pak, maaf ya… lain kali tolong sampahnya disimpan pada tempatnya
ya…," sambil kita pungut dan kita simpan pada tempat sampah yang tersedia
Insya Allah kalau niatnya tulus akan menjadi amal sedekah kita.
Siapatahu beliau akan tersentuh lalu sadar dan membiasakan kebaikan ini selain
pada dirinya sendiri juga pada keluarga dan lingkungannya sehingga menularlah
kebiasaan mulia ini. Amin!
(Sumber : Jurnal MQ Vol. 1/No.11/Maret
2002)
Tag :
Artikel,
Email Dari Rasul
By : Unknown
Email Dari Rasul
Malam sudah cukup larut, namun
mata ini masih tak bisa terpejam. Semua tugas-tugas kantor yang kubawa pulang
sudah selesai, tak lupa kusediakan setengah jam sebelum pukul 23.00 untuk
membalas beberapa email yang baru sempat terbaca malam ini. Nyaris saja kupilih
menu ‘shut down’ setelah sebelumnya menutup semua jendela di layar komputer,
tiba-tiba muncul alert yahoo masuknya email baru. “You have 1 new
message(s)...”. Seperti biasanya, aku selalu tersenyum setiap kali
alert itu muncul, karena sudah bisa diduga, email itu datang dari orang-orang,
sahabat, saudara, kerabat, intinya, aku selalu senang menunggu kabar melalui
email dari mereka. Tapi yang ini ... Ooopss ... ini pasti main-main ... disitu
tertulis “From: Muhammad Rasul Allah”
Walaupun sudah seringkali
menerima junkmail atau beraneka spam, namun kali ini aku tidak menganggapnya
sebagai email sampah atau orang sedang main-main denganku. Maklum, meski selama
ini sering sekali teman-teman yang ‘ngerjain’, tapi kali ini, sekonyol-konyolnya
teman-teman sudah pasti tidak ada yang berani mengatasnamakan Rasulullah Saw.
Maka dengan hati-hati, kuraih mouse-ku dan ... klik ...
“Salam
sejahtera saudaraku, bagaimana khabar imanmu hari ini ...
Kebaikan apa yang sudah kau perbuat hari ini, sebanyak apa perbuatan dosamu hari ini ...”
Kebaikan apa yang sudah kau perbuat hari ini, sebanyak apa perbuatan dosamu hari ini ...”
Aku tersentak ... degub didada
semakin keras, sedetik kemudian, ritmenya terus meningkat cepat. Kuhela nafas
dalam-dalam untuk melegakan rongga dada yang serasa ditohok teramat keras
hingga menyesakkan. Tiga pertanyaan awal dari “Rasulullah” itu membuatku
menahan nafas sementara otakku berputar mencari dan memilih kata untuk
siap-siap me-reply email tersebut. Barisan kalimat “Rasulullah” belum selesai,
tapi rasanya terlalu berat untuk melanjutkannya. Antara takut dan penasaran
bergelut hingga akhirnya kuputuskan untuk membacanya lagi.
“Cinta
seorang ummat kepada Rasulnya, harus tercermin dalam setiap perilakunya. Tidak
memilih tempat, waktu dan keadaan. Karena aku, akan selalu mencintai ummatku,
tak kenal lelah. Masihkah kau mencintaiku hari ini?”
Air menetes membasahi pipiku,
semakin kuteruskan membaca kalimat-kalimatnya, semakin deras air yang keluar
dari sudut mataku.
“Pengorbanan
seorang ummat terhadap agamanya, jangan pernah berhenti sebelum Allah
menghendaki untuk berhenti. Dan kau tahu, kehendak untuk berhenti memberikan
pengorbanan itu, biasanya seiring dengan perintah yang diberikan-Nya kepada
Izrail untuk menghentikan semua aktifitas manusia. Sampai detik ini, pernahkah
kau berkorban untuk Allah?”.
Kusorot ketengah halaman ....
“Sebagai
Ayah, aku contohkan kepada ummatku untuk menyayangi anak-anak mereka dengan
penuh kasih. Kuajari juga bagaimana mencintai istri-istri tanpa sedikit melukai
perasaannya, sehingga kudapati istri-istriku teramat mencintaiku atas nama
Allah. Aku tidak pernah merasakan memiliki orangtua seperti kebanyakan ummatku,
tapi kepada orang-orang yang lebih tua, aku sangat menghormati, kepada yang
muda, aku mencintai mereka. Sudahkah hari ini kau mencium mesra dan membelai
lembut anak-anakmu seperti yang kulakukan terhadap Fatimah? Masihkah panggilan
sayang dan hangat menghiasi hari-harimu bersama istrimu? Sudahkah juga kau
menjadi pemimpin yang baik untuk keluargamu, seperti aku mencontohkannya
langsung terhadap keluargaku?.
Satu hentakkan pagedown lagi ...
“Aku
telah memberi contoh bagaimana berkasih sayang kepada sesama mukmin, bersikap
arif dan bijak namun tegas kepada manusia dari golongan lainnya, termasuk
menghormati keberadaan makhluk lain dimuka bumi. Saudaraku ...”
Cukup sudah. Aku tak lagi sanggup
meneruskan rentetan kalimatnya hingga habis. Masih tersisa panjang isi email
dari Rasulullah, namun baru yang sedikit ini saja, aku merasa tidak kuat. Aku
tidak sanggup meneruskan semuanya karena sepertinya Rasulullah sangat tahu
semua kesalahan dan kekuranganku, dan jika kulanjutkan hingga habis, yang pasti
semuanya tentang aku, tentang semua kesalahan dan dosa-dosaku.
Kuhela nafas panjang
berkali-kali, tapi justru semain sesak. Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap,
entah apa yang terjadi. Sudah tibakah waktuku? Padahal aku belum sempat
me-reply email Rasulullah itu untuk memberitahukan kepada beliau bahwa aku
tidak akan menjawab semua emailku dengan kata-kata. Karena aku yakin, Rasul
lebih senang aku memperbaiki semua kesalahanku hari ini dan hari-hari
sebelumnya, dari pada harus bermanis-manis mengumbar kata memikat hati, yang
biasanya tak berketerusan dengan amal yang nyata.
Pandanganku kini benar-benar
gelap, pekat sampai tak ada lagi yang bisa terlihat. Hingga ...
nit... nit... alarm jam tanganku berbunyi. 00.00 WIB. Ah,
kulirik komputerku, kosong, kucari-cari email dari Rasulullah di inbox-ku.
Tidak ada. Astaghfirullaah, mungkinkah Rasulullah manusia mulia itu
mau mengirimi ummatnya yang belum benar-benar mencintainya ini sebuah email? Ternyata
aku hanya bermimpi, mungkin mimpi yang berangkat dari kerinduanku akan bertemu
Rasul Allah. Tapi aku merasa berdosa telah bermimpi seperti ini. Tinggal kini,
kumohon ampunan kepada Allah atas kelancangan mimpiku. Wallahu ‘a’lam
bishshowaab
Tag :
Agama islam,
Artikel,
Detik-detik Rasulullah SAW menjelang sakratul maut
By : Unknown
Detik-detik
Rasulullah SAW menjelang sakratul maut
Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan
Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai
menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.
Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah
dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak
orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah
yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan
berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman
menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu
telah datang, saatnya sudah tiba.
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah
hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan
tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan
sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.
Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan
menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu
Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring
lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang
menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru
mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah
tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata
Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah
membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang
menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan
kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya
sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu
dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?"
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah
terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti
kedatanganmu," kata jibril.
Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih
penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya
Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah
mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali
umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah
peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut
ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di
sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau
melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah
direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit
yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja
semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai
dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan
hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum
bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni
orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat
saling berpelukan.Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali
mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii,
ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah
kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim
'alaihi
Tag :
Agama islam,
Artikel,
DEMI WAKTU
By : Unknown
DEMI
WAKTU !!!
Allah berfirman : "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kebenaran." (Al Ashr: 1-3).
Akhi….
Perlu diketahui, sesungguhnya modal bagi seorang muslim dalam mengarungi
kehidupannnya di dunia ini adalah kesempatan waktu yang sangat singkat,
denyut-denyut jantung yang terbatas, dan hari-hari yang terus berganti. Dan
akan menjadi suatu keberuntungan baginya, jikalau ia mau memanfaatkan
kesempatan dan detik-detik waktu tersebut untuk kebajikan. Pada hakekatnya
waktu bagi manusia adalah usianya. Waktu adalah inti hidupnya yang abadi.
Berjalannya waktu, tak ubahnya seperti awan. Jika waktu dimanfaatkan untuk
Allah dan menyembah-Nya, maka itulah nilai yang paling mahal untuk umurnya. Dan
apabila waktunya dimanfaatkan untuk hal yang tak berguna, maka nilai umurnya
tak lebih seperti umur binatang. Dan kematian baginya lebih baik daripada
hidupnya. Dan perlu akhi ketahui pula, kalau umur manusia di dunia ini seperti
musim tanam di dunia dan memetik hasil tanaman di akherat nanti.
Akhi…
Tentunya akhi tahu, kalau Allah sesungguhnya pernah bersumpah dengan
waktu. Dan sesungguhnya sumpah yang pernah diucapkan Allah melalui
firman-firman Nya, mengisyaratkan bahwa manusia sangat akrab dengan keburukan
dan malapetaka dikarenakan terlena dari kejapan masa. Sumpah Allah pun juga
mengisyaratkan tentang kemuliaan dan ketinggian waktu. Perlu Akhi ketahui,
kalau kesengsaraan dan kerugian yang menyertai manusia dikarenakan oleh sikap
menyia-nyiakan waktu. Padahal bukankah usia manusia sangatlah pendek?. Tetapi,
setiap detik usia yang dilewati akan dipertanggungjawabkan kelak di hari kiamat
nanti. Rasulullah Saw pernah bersabda : "Kedua kaki seorang hamba tidak
akan melangkah pada hari kiamat sehingga ia ditanya terlebih dahulu tentang
empat perkara yaitu; tentang umurnya, untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya,
untuk apa ia lewatkan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk
apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya, untuk apa ia gunakan."
Akhi…
Hari demi hari silih berganti, malam demi malam saling mengikuti, dan
begitu seterusnya. Dan manusia adalah musafir yang sedang menelusuri perjalanan
yang ditemani waktu hingga sampai pada titik akhir perjalanan. Dan setiap orang
adalah bagian dari kafilah umat yang terus berjalan silih berganti dari
generasi ke generasi dan berakhir pada suatu tempat yaitu surga dan neraka.
Seorang musafir yang bijak, pastinya menyadari bahwa perjalanan adalah tugas
berat dan penuh tantangan yang tidak mungkin untuk dapat dinikmati dengan
indah. Sebab kenikmatan akan ada setelah ia sampai ke tempat tujuan. Dan ia pun
akan menyadari bahwa setiap detik yang dilaluinya dan setiap kaki yang
melangkah dalam perjalanannya tidak mungkin berhenti. Sehingga Ia
pun harus terus mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup.
Akhi…,
Suatu ketika Ali Ra, pernah berpesan kepada para sahabatnya :
"Dunia telah pergi meninggalkanmu dan akhirat akan datang menjemputmu.
Dunia dan Akhirat mempunyai hamba saudaraku!, maka jadilah engkau hamba
akhirat, dan jangan pernah kau menjadi hamba dunia. Sebab hari ini (baca; dunia)
adalah amal bakti, bukan perhitungan yang dirinci. Sedangkan esok hari
(baca;Akhirat) adalah perhitungan bukan amal bakti."
Akhi…
Akhi…
Memang sering terlintas dipikiran dan di benak, untuk apa kita hidup?,
dan ternyata pertanyaan itu dijawab seorang sahabat bernama Abu Darda,
"Seandainya bukan karena tiga hal, aku tidak ingin hidup meskipun hanya satu
hari. Siang hari aku dahaga pada Allah dengan menghindari larangan-Nya,
bersujud di tengah malam, dan bergaul dengan orang-orang yang memilih tutur
kata yang manis seperti memilih kurma yang baik."
Umar bin Abdul Aziz melukiskan bahwa, Kehidupan di dunia ini bukanlah
suatu keabadian. Dimana Allah menentukan kefanaan dunia dan kepergiaan
makhluk-Nya menuju satu titik perjalanan. Tetapi berapa banyak bangunan kokoh
yang dihancurkan karena alasan melenakan. Dan berapa banyak pula kesenangan hakiki
ditinggalkan demi ilusi yang tak berarti. Maka pergilah mengarungi perjalanan,
dengan kesiapan dengan kesiapan yang baik menghadapi rintangan dan berbekallah
dengan ketakwaan sebab ketakwaan adalah sumber kebaikan.
Maka dari itu Akhi…
Sebuah pesan jujur dan nasehat yang mulia pernah terlontar dari seorang
Fadhil bin Iyadh, ia berkata : "Berpikirlah dan berkaryalah sebelum datang
penyesalan. Jangan terpesona oleh gemerlap dunia, karena dunia pasti akan
menipunu !"
Begitupun Umar bin Abdul Aziz berpesan : " Jadilah orang asing, di
negeri asing ini (baca; dunia), dengan itu, pikiranmu akan selalu tercurah
untuk membekali diri dan mempersiapkan diri untuk kembali lagi. Atau
bersikaplah engkau dinegeri asing ini seperti pengembara seorang diri yang
tidak bermukim sama sekali. Sehingga di siang dan malam, engkau terus berjalan
menyusuri dunia ini menuju satu tujuan.
(Sumber : Jurnal MQ Vol. II/No.2/JUNI 2002)
Tag :
Artikel,
BERHATI-HATILAH TERHADAP DUNIA
By : Unknown
BERHATI-HATILAH
TERHADAP DUNIA
Dunia adalah kediaman yang fana. Ia bukan
rumah tempat berteduh, bukan sabana tempat merumput. Ia adalah tempat
persinggahan sejenak yang penuh tipu daya. Ia adalah tempat yang hina di
hadapan Allah, maka bercampurlah antara yang haram dengan yang halal, antara
yang ma’ruf dengan yang mungkar, antara kehidupan dan kematian, dan antara
manis dengan pahitnya.
Saudaraku,
Sedangkan ayat kedua berbunyi,
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan
hanya sesuatu yang melenakan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta
berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti)
ada azab yang keras dan ampunan dari Allah SWT serta keridhaan-Nya. Dan
kehidupan di dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS.
Al Hadid [57] : 20)
Saudaraku,
Dunia ini memang tidak ada apa-apanya. Dia hanyalah ladang kesia-siaan
sekiranya kita hanya menjadikannya pemuas nafsu, memperturutkan segala bentuk
tipuan setan. Dititipi harta, gelar, pangkat, dan jabatan, bukannya dijadikan
sebagai ladang syukur nikmat kepada Zat yang telah menitipinya kelebihan dunia
ini tersebut, melainkan dijadikannya ladang petaka laknat karena menjadi ujub,
riya, sum’ah, takabur, serta gemar berbuat aniaya pada sesama manusia. Dititipi
istri yang cantik dan anak yang lucu-lucu, bukan semakin membuatnya dekat
kepada Allah, justru semakin lalai dan jauh dari karunia-Nya. Pendek kata,
apapun nikmat yang dititipkan kepadanya hanya membuatnya semakin jauh
tergelincir mmperturutkan hawa nafsu dan tipuan setan, naudzubillaahi min
dzalik!
Orang seperti ini biasanya akan selalu merasa pusing dengan urusan
dunia. Setiap saat pikirannya akan selalu disibukkan untuk mengejar dunia
sebanyak-banyaknya. Ia akan tertawa bila apa yang dikejarnya di dapat, tetapi
akan kecewa, gelisah, dan marah bila apa yang diinginkannya tidak kesampaian.
Pokoknya, otak dan hatinya akan terus dilanda pusing, pusing, dan pusing.
Tidaklah aneh, karena dunia sepertinya telah memperbudak setiap desah nafas
hidupnya, setiap denyut darah di urat nadinya, setiap jengkal langkah demi
langkah hidupnya. Dunia telah jadi bagian yang melenakan tugas hidupnya sebagai
seorang hamba. Dunia telah menggerogoti pikiran rasionalnya sebagai seorang
hamba.
Saudaraku,
Pantaslah bila Imam Ali r.a. dalam sebuah khutbahnya mempertanyakan
orang-orang dengan tabiat seperti ini, "Ada apa dengan kalian ini, sehingga kalian
merasa puas dengan sedikit yang kalian peroleh dari dunia ini. Sementara,
sesuatu yang banyak dari akhirat dan hilang dari kalian, tidak membuat sedih?
Yang sedikit dari dunia ini yang untuk itu kalian menderita sakit sedemikian
banyaknya, sehingga ia menjadi tampak pada wajah kalian atas apa saja yang
diambil dari kalian. Seakan dunia ini adalah kediaman yang kekal dan seakan
kekayannya menetap pada kalian selama-lamanya?"
Betul, Allah tidak akan menjauhkan dunia dari pecinta-Nya. Tidak pula Ia
kikir dengan itu kepada yang ingkar dari-Nya. Tapi ingat,kebaikannya amatlah
jarang dan keburukannya selalu siap mendera. Pantaslah Allah telah mengingatkan
kita dalam sebuah hadits qudsi bahwa, "Kalau dunia ini ada harga sesayap
nyamuk, niscaya orang-orang kafir tidak akan diberi minum walau barang
seteguk." Begitu tidak berharganya dunia di hadapan Allah. Lalu, layakkah
kita mengejar-ngejarnya begitu rupa sampai tidak peduli halal haram? Sampai
tidak peduli hukum-hukum Allah? Sungguh sebuah pekerjaan yang teramat bodoh.
Saudaraku,
Berhati-hatilah dengan dunia ini. Ia adalah kesenangan yang menipu,
seandainya kita tidak benar dalam menyikapinya. Rasulullah SAW dan para sahabat
pun telah begitu rupa mengingatkan tentang hakikat dunia ini. Sabdanya,
"Cinta kepada dunia adalah sumber dari segala kejahatan." Orang boleh
kaya dunia, tetapi Nabi SAW melarang cinta kepada dunia. Seperti Nabi Sulaiman
AS dan para sahabat yang kaya, mereka ternyata berhasil menundukan dunia di
dalam genggamannya. Dunia sama sekali tidak diletakkan di dalam hatinya, cinta
kepada Allah justru itulah yang selalu menyelimuti hati-hati mereka.
Pantaslah bila Imam Ibnu Athaillah dalam kitabnya yang terkenal, Al
Hikam, menasehatkan, "Istirahatkan dirimu dari kerisauan mengatur
kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin oleh lain mu, tidak usah kau
sibuk memikirkannya." Seorang hamba hanya wajib dan melulu mengenal
kewajiban, sedang jaminan upah ada di tangan majikan. Maka tidak usah risau
pikiran dan perasaan untuk mengaturnya, karena kuatir kalau apa yang telah
dijamin itu tidak tiba atau terlambat, sebab ragu terhadap jaminan Allah adalah
tanda kurangya iman.
Saudaraku,
Kampung dunia ini sebenarnya tidak ada apa-apanya. Karenanya, daripada
sibuk mencari-cari dunia, lebih baik carilah Yang Memiliki Dunia! Dia-lah Allah
SWT.
(Sumber : Jurnal MQ Vol.I/No.3/Juli 2001)
Tag :
Artikel,
BERCERMIN DIRI
By : Unknown
BERCERMIN
DIRI
Sahabatku,
Dalam keseharian kehidupan ini, kita
seringkali melakukan aktivitas bercermin. Tidak pernah bosan barang sekalipun
padahal wajah yang kita tatap, itu-itu juga, aneh bukan?! Bahkan hampir pada
setiap kesempatan yang memungkinkan, kita selalu menyempatkan diri untuk
bercermin. Mengapa demikian? Sebabnya, kurang lebih karena kita ingin selalu
berpenampilan baik, bahkan sempurna. Kita sangat tidak ingin berpenampilan
mengecewakan, apalagi kusut dan acak-acakan tak karuan.
Hanya saja, jangan sampai terlena dan
tertipu oleh topeng sendiri, sehingga kita tidak mengenal diri yang sebenarnya,
terkecoh oleh penampilan luar. Oleh karena itu marilah kita jadikan saat
bercermin tidak hanya topeng yang kita amat-amati, tapi yang terpenting adalah
bagaimana isi dari topeng yang kita pakai ini. Yaitu diri kita sendiri.
Sahabatku,
Mulailah amati wajah kita seraya bertanya,
"Apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga sana ataukah wajah ini
yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"
Lalu tatap mata kita, seraya bertanya,
"Apakah mata ini yang kelak dapat
menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap Allah yang Mahaagung, menatap
keindahan surga, menatap Rasulullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih
Allah kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai,
meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan
menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Lalu tataplah mulut ini, "Apakah mulut
ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thayibah,
'laaillaahaillallaah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur
dan di akhirat akan memakan buah zakum yang getir menghanguskan dan
menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu
banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita
ini!"
"Wahai mulut apa gerangan yang kau
ucapkan? Betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang
remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa banyak kata-kata
yang manis semanis madu palsu yang engkau ucapkan untuk menipu beberapa orang?
Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya engkau menyebut nama Allah
dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Allah
mengampunimu?"
Sahabatku,
Tataplah diri kita dan tanyalah, "Hai
kamu ini anak shaleh atau anak durjana? Apa saja yang telah kamu peras dari
orang tuamu selama ini? Dan apa yang telah engkau berikan? Selain menyakiti,
membebani, dan menyusahkannya?! Tidak tahukah engkau betapa sesungguhnya engkau
adalah makhluk tiada tahu balas budi!"
"Wahai tubuh, apakah engkau yang kelak
akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di surga sana ? Atau tubuh yang
akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar membara jahannam tanpa ampun
dengan derita tiada akhir?"
"Wahai tubuh, berapa banyak maksiat
yang engkau lakukan? Berapa banyak orang-orang yang engkau zhalimi dengan
tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang engkau tindas dengan
kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa
peduli padahal engkau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau rampas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi
hatimu? Apakah tubuhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang
melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang
mudah rontok? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk
kotoran-kotoranmu?"
Sahabatku,
Ingatlah amal-amal kita, "Hai tubuh
apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikkan, berapa banyak aib-aib nista yang
engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini? Apakah engkau ini dermawan atau si
pelit yang menyebalkan? Berapa banyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan
dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu"
"Apakah engkau ini shaleh atau
shalehah seperti yang engkau tampakkan? Khusyu-kah shalatmu, zikirmu, do’amu,
...ikhlaskah engkau lakukan semua itu? Jujurlah hai tubuh yang malang ! Ataukah menjadi makhluk riya tukang
pamer!"
Sungguh
betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi.
Betapa aku telah tertipu oleh topeng? Betapa yang kulihat selama ini hanyalah
topeng, hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus topeng-topeng duniawi!
Sahabat-sahabat sekalian,
Sesunguhnya saat bercermin adalah saat yang
tepat agar kita dapat mengenal dan menangisi diri ini.***
(Sumber : Jurnal MQ Vol.1/No.1/Mei 2001)
Tag :
Artikel,
