Popular Post

Tampilkan postingan dengan label Teknologi pertanian. Tampilkan semua postingan

By : Unknown
Pengertian Mekanisasi Pertanian Teknologi pertanian sering dipahami sebagai penggunaan mesin-mesin pertanian lapang (mechanization) pada proses produksi pertanian, bahkan sering dipandang sebagai traktorisasi. Pemahaman seperti itu dapat dimaklumi karena introduksi teknologi di bidang pertanian ketika itu diawali dengan gerakan mekanisasi pertanian untuk memacu produksi pangan terutama dengan penerapan traktor seperti percobaan mekanisasi pertanian di Sekon Timor-Timur tahun 1946, pool-pool traktor pada tahun 1958, perusahaan bahan makanan dan pembukaan lahan tahun 1958, serta PN. Mekatani (Mekanisasi Pertanian) tahun 1962. Mekanisasi pertanian diartikan secara bervariasi oleh beberapa orang.Mekanisasi pertanian diartikan sebagai pengenalan dan penggunaan dari setiap bantuan yang bersifat mekanis untuk melangsungkan operasi pertanian. Bantuan yang bersifat mekanis tersebut termasuk semua jenis alat atau perlengkapan yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan, motor bakar, motor listrik, angin, air, dan sumberenergi lainnya. Secara umum mekanisasi pertanian dapat juga diartikan sebagi penerapan ilmu teknik untuk mengembangkan, mengorganisasi, dan mengendalikan operasi di dalam produksi pertanian. Ruang lingkup mekanisasi pertanian juga berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan modernisasi pertanian. Ada pula yang mengartikan bahwa pada saat ini teknologi mekanisasi yang digunakan dalam proses produksi sampai pasca panen (penanganan dan pengolahan hasil) bukan lagi hanya teknologi yang didasarkan pada energi mekanis, namun sudah mulai menggunakan teknologi elektronika atau sensor, nuklir, image processing, bahkan sampai teknologi robotik. Jenis teknologi tersebut digunakan baik untuk proses produksi, pemanenan, dan penanganan atau pengolahan hasil pertanian. Mekanisasi pertanian dalam arti luas bertujuan untuk meningkatkan produktifitas tenaga kerja, meningkatkan produktifitas lahan, dan menurunkan ongkos produksi. Penggunaan alat dan mesin pada proses produksi dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, produktifitas, kualitas hasil, dan mengurangi beban kerja petani. Pengalaman dari negara-negara tetangga Asia menunjukkan bahwa perkembangan mekanisasi pertanian diawali dengan penataan lahan (konsolidasi lahan), keberhasilan dalam pengendalian air, masukan teknologi biologis, dan teknologi kimia. Penerapan teknologi mekanisasi pertanian yang gagal telah terjadi di Srilangka yang disebabkan kecerobohan akibat penerapan mesin-mesin impor secara langsung tanpa disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik pertaniannya. Berbeda halnya dengan Jepang yang melakukan modifikasi sesuai dengan kondisi lokal, kemudian baru memproduksi sendiri untuk digunakan oleh petani mereka. Suatu hal yang paling mendasar yang masih belum diperhatikan dalam pengembangan teknologi pertanian di Indonesia hingga kini adalah kurang memadainya dukungan prasarana pertanian. Prasarana pertanian kita belum dikelola secara baik, sehingga masih agak sulit atau lambat dalam melakukan introduksi mesin-mesin pertanian. Pengelolaan lahan, pengaturan dan manejemen pengairan yang meliputi irigasi dan drainase, serta pembuatan jalan-jalan transportasi daerah pertanian, dan masih banyak lagi aspek lainnya yang belum disentuh secara sungguh-sungguh dan profesional. Relevansinya dengan hal tersebut, beberapa hal penting yang harus dilaksanakan antara lain adalah merencanakan atau memperbaiki kondisi lahan (konsolidasi lahan). Selain itu juga mendatangkan dan mengupayakan agar prasarana dan sarana pertanian sampai dan tersedia di lapangan tepat waktu sehingga dapat mengakselerasi pencapaian visi dan misi pertanian modern. Pengembangan teknologi pertanian diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat kita umumnya dan petani khususnya. Dapat dipastikan bahwa jika teknologi pertanian yang cocok tersebut telah berhasil dikembangkan dan diterapkan di negara kita, maka ketahanan pangan atau swasembada pangan pasti akan tercapai sehingga kemandirian dalam hal ekonomi dan politik dapat kita wujudkan. Apabila hal tersebut benar-benar kita miliki, maka dalam menghadapi era global nanti kita sudah punya bekal paling tidak ketahanan pangan dalam menghadapi beberapa goncangan. Dengan ketahanan pangan berarti bahaya kekurangan pangan atau kelaparan akibat tajamnya persaingan pada era global dapat dihindarkan. Pada akhirnya kita punya modal kemandirian minimal dalam satu aspek pangan dan beberapa aspek lainnya misalnya keutuhan bangsa dan semangat untuk berkompetesi demi kemajuan bangsa yang berdaulat dan bermartabat

Konsep Hidroponik Sederhana

By : Unknown

Konsep Hidroponik Sederhana

Menanam tanaman dengan cara hidroponik telah menjadi alternatif dalam membudidayakan tanaman (sayur, bunga dan buah). Selain mudah diterapkan hidroponik ini juga terbukti mampu meningkatkan hasil serta menurunkan biaya tanam (terutama pupuk). Maasih jarang kita temukan ada petani mengaplikasikan teknik hidroponik ini di kebun atau lading mereka, hal ini karena kurangnay penyuluhan yang diberikan oleh petugas penyuluh pertanian ke petani atau mungkin bisa jadi penyuluh sendiri kurang memahami konsep hidroponik ini bila diterapkan kedalam tanaman dengan skala besar? 

Pada dasarnya konsep hidroponik itu amat sederhana, sesuai dengan asal katanya “hydro dan ponos” yang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan hidro berarti air dan ponik berarti kekuatan (daya). Jadi hidroponik itu berarti membudidayakan tanaman dengan menggunakan media air. Bukankah itu cukup sederhana?

Selama ini masyarakat hanya mengenal media tanam berupa tanah, padaha media tanam itu tidak hanya tanah; misalnya kapas, bisa digunakan untuk media tanam jamur, kayu bisa diguanakn untuk media tanam bunga anggrek. Jadi media tanam itu bukanlah menjadi permasalahan dalam budidaya tanaman, sebuah tanaman (tumbuhan) pada dasarnya bisa hidup dimana saja asalkan unsure hara dan zat makanan tersedia. Unsur maknan itu tidak harus berada dalam tanah (alami). Unsir hara itu bisa dimodifikasi dengan pemberian pupuk.

Rasanya dengan penjelasan singkat diatas maka kita bisa membuat sebuah konsep tanaman hidroponik sederhana, salah satunya sebagai berikut:

Kita akan menanam paprika secara hidroponik, maka peralatan dan perlengkapan yang kita butuhkan sebagai berikut:

1. Wadah, digunakan untuk menampung media tanam. Wadah ini bisa saja kaleng bekas, ember bekas, atau plastik polibek.
2. Media tanam, syarat media tanam dengan cara hidroponik paling utama adalah media tersebut mampu menyerap air dan menyimpanya beberapa waktu. Contohnya; serbuk kayu (gergaji), sabut kelapa dan lain-lain, selain mampu menyerap air media ini juga mampu menopang dasar pohon tanaman yang akan kit tanam secara hidroponik.
3. Bibit tanaman, bibit yang kita butuhkan dalam menanam secara hidroponik ini buka berbentuk biji, melainkan tanaman muda yang telah memiliki struktur jaringan akar yang komplet. Misalnya tanaman paprika yang telah disemai selama 2 minggu.
4. pupuk (zat makanan tumbuhan/ unsure hara), karena paprika yang kita tanam dalam median yang tidak mengandung unsure hara (seperti humus), maka kita harus menyediakan pengganti unsure hara tersebut yang terdapat dalam pupuk tanaman.

Langkah sederhana menanam paprika secara hidroponik:
Setalah wadah kita bersihkan isilah dengan sabut kelapa/ serbuk gergaji (median tanam lain), selanjutnya siram dengan air tanpa pupuk, diamkan selama 1 malam dan tanam bibit paprika yang sebelumnya telah disemaikan, setiap sore siram tanaman hingga tingkat kebasahan media 60 % (ciri-cirinya; jika kita masukkan jari kedalam media akan teras basah namun jika jari tersebut kita angkat tidak membawa tetesan air di ujung jari).

Setelah tanaman paprika berumur seminggu didalam pot siram dengan air yang dicampur dengan pupuk tanaman (pupuk dilarutkan dalam air). Pemupukan ini dilakukan 2 kali seminggu, atau bisa juga 2 hari sekali. Begitu seterusnya hingga tanaman hidroponik sederhana ini mulai berbunga.

Ketika tanaman paprika hidroponik kita tersbut telah mulai menghasilkan bunga lakukan penyemprotan pestisida ditambah dengan zat daun dan zat buah (tentang tanyakan saja ke toko pupuk pertanian yang ada di kota anda). Penyemprotan dilakukan minimal 1 kali seminggu, teknik penyemprotan; semua bagian daun dan batang terkena semprot. Begitu seterusnya hingga tanaman paprika berbuah.

Rasanya hanya demikian sajalah teknik hidroponik, bagaimana? cukup sederhana bukan, dan ini sangat mudah diaplikasikan di halaman pekarangan rumah anda. Untuk informasi bibit tanaman dalam bentuk biji anda bisa menghubungi kami via contact.

Inovasi Pertanian

By : Unknown

Inovasi Pertanian: Gabungan Akuakultur dan Hidroponik

Tomat dan ikan sukses dibudidayakan di dalam lingkungan yang sama. Air kotor dari akuarium menyediakan nutrisi mineral yang penting bagi pertumbuhan tanaman.
Ratusan ikan tilapia berhabitat dalam puluhan akuarium di Institut Ekologi Air Tawar dan Perikanan Darat di Berlin. Deretan akuarium terletak di dalam rumah kaca yang juga menjadi tempat tumbuhnya tanaman tomat. Pendingin ruangan membuat suhu di dalam rumah kaca konstan pada angka 27 derajat Celsius - lingkungan yang kondusif bagi tomat dan tilapia. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menumbuhkan sayuran dan mengembangbiakkan ikan pada kondisi zero emissionatau emisi nol.
Produksi pangan berteknologi tinggi
Tomat dan ikan dapat hidup dalam lingkungan artifisial yang menggunakan teknologi untuk memastikan hasil yang optimal.
Ikan dikembangbiakkan secara manusiawi, bela Werner Kloas yang membuat konsep proyek. Jumlah ikan di dalam akuarium disesuaikan dengan jumlah normal di habitat asli mereka.
Air dari akuarium memberi nutrisi bagi tomatAir dari akuarium memberi nutrisi bagi tomat
Tomat juga tumbuh dalam lingkungan buatan. Mereka ditanam bukan dalam tanah, tapi dalam wol mineral. "Kultivasi tanaman tanpa tanah namanya hidroponik," jelas Hendrik Monsees, seorang ahli biologi di institusi tersebut.
Jenis kultivasi dan pertanian semacam ini bukan sesuatu yang baru. Sayuran tumbuh dalam rumah kaca di berbagai penjuru dunia. Dan beternak ikan dalam akuarium juga bukan sesuatu yang revolusioner. Tapi apa yang baru adalah air dari akuarium digunakan untuk menumbuhkan tomat. Akuakultur, yakni peternakan organisme akuatik, dan hidroponik - menumbuhkan tanaman menggunakan solusi nutrisi mineral dalam air, tanpa tanah - selama ini merupakan domain yang terpisah, ungkap Kloas.
Pada intinya, proyek ini menggabungkan akuakultur dan hidroponik.
"Saat tanaman butuh air dan nutrisi, akan didapatkan dari akuarium," kata Kloas.
Dua tahapan purifikasi air
Ikan mengeluarkan amonia, yang beracun bagi tilapia, sehingga airnya harus dirawat. Namun keuntungannya, air kotor dari akuarium justru menjadi pupuk ideal bagi tomat begitu kotoran ikan sudah difilter dan amonia dipisahkan secara kimiawi.
Di dalam rumah kaca, segala proses ini berlangsung otomatis. Air kotor dari akuarium masuk ke dalam pipa plastik berwarna putih. Pada tahap awal, kotoran ikan disaring keluar kemudian air dipurifikasi dalam sebuah biofilter.
Di dalam filter terdapat plastik-plastik kecil yang mengapung di atas air. Ukuran plastik hanya sebesar ujung jempol, namun permukaannya ampuh menyaring bakteri.
"Ini bakteri - Nitrosomonas dan Nitrobacter - yang lazim dijumpai di dalam air," pungkas Kloas. Proses nitrifikasi dilakukan oleh kedua kelompok bakteri tersebut. Nitritasi mengubah amonia menjadi nitrit. Dan nitratasi mengubah senyawa nitrit menjadi nitrat.
Dan nitrat merupakan komponen penting dan berharga bagi pupuk tanaman.
Air yang dirawat dalam akuarium dialirkan melalui pipa ke boks-boks tempat tanaman tomat tumbuh. Nitrat diekstrak dari air - sisa air terbuang melalui dedaunan sebagai uap air. Sejumlah perangkap dingin terpasang di langit-langit untuk memastikan kondensasi air kembali diarahkan ke akurium. Siklus ikan-tomat terpenuhi sudah.
Menghemat air
Tanaman tomat dalam rumah kaca tidak membutuhkan air tawar layaknya peternakan ikan dan penanaman sayuran konvensional.
"Dengan sebuah sistem siklus tertutup, kami hanya membutuhkan sekitar 10 persen air tawar per hari," tandas Werner Kloas. "Kami dapat menghemat begitu banyak air dan oleh karena itu tercipta sebuah sistem berkelanjutan."

makalah hidroponik

By : Unknown
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Buah tomat saat ini merupakan salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomi tinggi dan masih memerlukan penanganan serius, terutama dalam hal peningkatan hasilnya dan kualitas buahnya. Apabila dilihat dari rata-rata produksinya, ternyata tomat di Indonesia masih rendah, yaitu 6,3 ton/ha jika dibandingkan dengan negara-negara Taiwan, Saudi Arabia dan India yang berturut-turut 21 ton/ha, 13,4 ton/ha dan 9,5 ton/ha. Rendahnya produksi tomat di Indonesia kemungkinan disebabkan varietas yang ditanam tidak cocok, kultur teknis yang kurang baik atau pemberantasan hama atau penyakit yang kurang efisien.
            Sejak manusia mengenal pertanian, tanah merupakan media tanam yang paling umum digunakan dalam bercocok tanam. Seiring dengan perkembangan jaman dan dipacu oleh keterbatasan lahan yang dimiliki seperti tanah yang sempit atau tanah yang tidak subur, orang mulai bercocok tanam dengan menggunakan media tanam bukan tanah, seperti air, pasir dan lain-lain.
            Hidroponik merupakan salah satu alternatif cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Hidroponik berasal dari kata Hydro (air) dan Ponics (pengerjaaan), sehingga hidroponik bisa diartikan bercocok tanam dengan media tanam air. Pada awalnya orang mulai menggunakan air sebagai media tanam mencontoh tanaman air seperti kangkung, sehingga kita mengenal tanaman hias yang ditanam dalam vas bunga atau botol berisi air. Pada perkembangan selanjutnya orang mulai mencoba media tanam yang lain, kemudian membandingkan keuntungan dan kerugiannya, sehingga selain media tanam air (kultur air) dipakai juga media pasir (kultur pasir) dan bahan porus (kultur agregat) seperti kerikil, pecahan genteng, pecahan batu bata, serbuk kayu, arang sekam dan lain-lain.
            Sejarah hidroponik dimulai pada 3 abad yang lalu, pada tahun 1669 di Inggeris sudah dilakukan pengujian tanaman hidroponik dalam laboratorium. Kemajuan yang sangat berpengaruh terjadi pada tahun 1936, Dr. W.F. Gericke di California (AS) berhasil menumbuhkan tomat setinggi 3 m dan berbuah lebat dalam bak berisi air mineral. Pada tahun 1950 Jepang secara besar-besaran menyebarkan cara bercocok tanam hidroponik untuk mensuplai sayuran bagi tentara pendudukan Amerika Serikat. Dari sini hidroponik terus menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia hidroponik mulai dikembangkan pada sekitar tahun 1980.

1.2 Tujuan
1.    Untuk mengetahui cara budidaya tanaman tomat secara hidroponik dengan menggunakan media padat dari bibit.
2.    Untuk mengetahui pengaruh pemberian larutan nutrisi hidroponik terhadap pertumbuhan bibit tomat.



















II. TINJAUAN PUSTAKA

            Salah satu perkembangan teknologi budidaya pertanian yang layak disebarluaskan adalah teknologi hidroponik. Hal ini disebabkan oleh semakin langkanya sumberdaya lahan, terutama akibat perkembangan sektor industri dan jasa, sehingga kegiatan usaha pertanian konvensional semakin tidak kompetitif karena tingginya harga lahan. Teknologi budidaya pertanian sistem hidroponik memberikan alternatif bagi para petani yang memiliki lahan sempit atau yang hanya memiliki pekarangan rumah untuk dapat melaksanakan kegiatan usaha yang dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan yang memadai.
            Kemampuan tomat untuk dapat menghasilkan buah sangat tergantung pada interaksi antara pertumbuhan tanaman dan kondisi lingkungannya. Faktor lain yang menyebabkan produksi tomat rendah adalah penggunaan pupuk yang belum optimal sertta pola tanam yang belum tepat. Upaya untuk menanggulangi kendala tersebut adalah dengan perbaikan teknik budidaya. Salah satu teknik budidaya tanaman yang diharapkan dapat meningkatkan hasil dan kualitas tomat adalah hidroponik. Dengan sistem hidroponik dapat diatur kondisi lingkungannya seperti suhu, kelembaban relatif dan intensitas cahaya, bahkan faktor curah hujan dapat dihilangkan sama sekali dan serangan hama penyakit dapat diperkecil (Wijayani, 2005).
            Perbedaan paling menonjol antara hidroponik dan budidaya konvensional adalah penyediaan nutrisi tanaman. Pada budidaya konvensional, ketersediaan nutrisi untuk tanaman sangat tergantung pada kemampuan tanah menyediakan unsur-unsur hara dalam jumlah cukup dan lengkap. Unsur-unsur hara itu biasanya berasal dari dekomposisi bahanbahan organik dan anorganik dalam tanah yang terlarut dalam air. Kekurangan salah satu atau beberapa unsur hara dalam tanah umumnya dipenuhi dengan pemupukan tambahan. Pada budidaya hidroponik, semua kebutuhan nutrisi diupayakan tersedia dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap oleh tanaman. Nutrisi itu diberikan dalam bentuk larutan yang bahannya dapat berasal dari bahan organik maupun anorganik. Pemberian nutrisi melalui permukaan media tanam atau akar tanaman. Ketersediaan nutrisi dalam bentuk cair itulah yang dipakai sebagai awal berpijak penerapan budidaya tanaman hidroponik (Siswadi, 2008).
            Jenis hidroponik dapat dibedakan dari media yang digunakan untuk tempat berdiri tegaknya tanaman. Media tersebut biasanya bebas dari unsur hara (steril), sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan ke dalam media tersebut melalui pipa atau disiramkan secara manual. Media tanam tersebut dapat berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolit, atau tanpa media agregat (hanya air). Yang terpenting adalah bahwa media tanam tersebut suci hama sehingga tidak menumbuhkan jamur atau penyakit lainya (Anonim, 2006).
            Pemenuhan kebutuhan nutrisi bisa anda peroleh dengan cara memberi berbagai macam pupuk khusus hidroponik dengan formulasi tertentu yang banyak tersedia ditoko-toko pertanian. Dalam fase awal pertumbuhan perlu perawatan secara rutin, misalnya dipagi hari tanaman perlu dikenakan sinar matahari. Kemudian juga perlu pemupukan secara rutin dalam setiap dua hingga lima hari sekali. Gunakan pupuk NPK Grand S 15 sebanyak satu sendok makan untuk kemudian larutkan kedalam sepuluh liter air. Masukkan larutan pupuk ini kedalam pot dasar sesuaikan dengan ketersediaan air dalam pot (Anonim, 2007).
            Menurut Susila (2006), peralatan dasar yang diperlukan untuk memenuhi kriteria tersebut di atas adalah :
1.    Tempat tumbuh tanaman, seperti bak atau kolam penampung, pot, dan bedengan.
Diusahakan agar tempat tumbuh tanaman dijaga kebersihannya secara berkala dengan membersihkan dan menghilangkan tumbuhan atau tanaman lain yang tidak diinginkan (terutama dalam bedengan atau kolam penampung).
2.    Aerator
Alat ini dipakai untuk tercukupinya oksigen untuk pertukaran udara dalam daerah perakaran. Kekurangan oksigen akan mengganggu penyerapan air dan nutrisi oleh akar dan respirasi.
3.      Larutan Nutrisi
Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. Unsur hara ini dibagi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca, dan Mg) dan mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn). Pada umumnya kualitas larutan nutrisi ini diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC) larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan (karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut). Larutan nutrisi dapat dibuat sendiri dengan melarutkan pupuk yang diramu khusus untuk tanaman hidroponik atau membeli pupuk hidroponik secara komersial.
            Agoes (2000), mengatakan bahwa berbeda dengan media tanam tanah yang berfungsi sebagai tempat tumbuh dan sumber makanan, media tanam air, pasir dan agregat hanya sebagai tempat tumbuh saja tidak menyediakan makanan bagi tanaman, sehingga bercocok tanam sistem hidroponik mutlak memerlukan pupuk sebagai sumber makanan bagi tanaman. Pupuk diberikan dalam bentuk larutan dan harus mengandung unsur makro (Nitrogen Fosfor, Kalium, Kalsium, Magnesium dan Belerang) dan unsur mikro (Mangan, Tembaga, Borium, Seng dan Molibdin). Larutan pupuk dapat dicampur sendiri dengan dosis tertentu sesuai dengan kebutuhan tanamannya. Bahan yang sering dipakai antara lain amonium sulfat, potasium nitrat, monocalsium fosfat, magnesium sulfat, iron sulfat, mangan sulfat, bubuk asam boric, seng sulfat dan tembaga sulfat. Kalau yang lebih praktis pakailah nutrien sudah jadi seperti Excell dengan dosis pemakaian sudah tertera pada kemasannya
            Pupuk untuk tanaman yang ditanam di tanah juga bisa dipakai berhidroponik, yang penting pupuk tersebut mudah larut dalam air dan tahan lama dipakai. Umumnya yang dipakai untuk keperluan berhidroponik adalah pupuk majemuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro sekaligus. Unsur makro berfungsi untuk menumbuhkan struktur vegetatif dan produksi. Unsur mikro berfungsi sebagai pelengkap esensial vital bagi rasa, kadar gula, tingkat kemanisan, warna, dan daya tahan tanaman terhadap gangguan penyakit. Beberapa merek dagang pupuk majemuk itu antara lain Vitagro, Vitabloom, Gandasil, Hyponex, dan Gromor. Penggemar hidroponik yang kreatif juga bisa meramu sendiri kebutuhan nutrisi untuk tanamannya sesuai dengan pupuk buatan yang banyak beredar di pasar. Misal satu sendok makan pupuk yang dicampur dengan 10 liter air dan ditambah satu tetes Atonik sebagai pengganti unsur mikro dan unsur esensial lain, sudah bisa dipakai sumber nutrisi bagi tanaman hias yang dihidroponikkan. Begitu pula satu sendok makan urea, TSP, dan KCl yang dilarutkan dalam 10 liter air ditambah 3 tetes Atonik atau Lauxin dapat dipakai sebagai sumber nutrisi bagi tanaman yang dihidroponikkan. Jika pupuk yang digunakan tidak mudah larut dalam air, larutan itu sebaiknya dibiarkan dulu satu malam sebelum dipakai (Siswadi, 2008).
            Menurut Wijayani (2005), cara budidaya secara hidroponik dengan membuat formula larutan yang dapat digunakan untuk berbagai macam tanaman sayuran dan hias, anjurannya adalah N 140-300 ppm, P 31-80 ppm dan K 160-300 ppm, tetapi untuk kebutuhan yang optimal belum diketahui secara pasti. Lebih memerinci khusus untuk tanaman tomat secara hidroponik kebutuhan N berkisar 300 ppm, P 80 ppm dan K 200 ppm. Penelitian yang membandingkan formulasi larutan hara dari bahan kimia murni dengan larutan hara siap pakai belum banyak dilakukan. Meskipun penggunaan varietas unggul sering dilaporkan akan meningkatkan hasil tanaman tomat, tetapi pengujian kualitas buah tomat belum banyak diteliti. Kenyataan bahwa kualitas buah tomat Indonesia masih rendah mutunya sangat menarik untuk dikaji lebih jauh mengenai bagaimana meningkatkan kualitas buah tomat dengan pemberian nutrisi yang tepat, disamping tentu saja harus menggunakan varietas unggul.
            Agoes (2000), mengatakan bahwa ada beberapa keuntungan bercocok tanam secara hidroponik sebagai berikut.
1.    Persoalan sempitnya lahan bukan lagi menjadi masalah karena kegiatan bercocok tanam bisa dilakukan di manapun, baik di dalam rumah, di kapal, di lahan kritis, di padang pasir, maupun di tengah kota yang sempit.
2.    Penanaman tidak tergantung musim.
3.    Media tanam yang digunakan bisa berulang-ulang.
4.    Jika penanaman hodroponik diusahakan di dalam rumah kaca, risiko serangan hama dan penyakit menjadi relatif lebih kecil.
5.    Penggunaan pupuk lebih efisien dan efektif tetapi tanaman mampu memberikan hasil dengan kualitas dan kuantitas yang maksimal.
6.    Bebas dari gulma yang merugikan tanaman pokok.
7.    Pertumbuhan tanaman lebih terkontrol.
            Untuk keperluan hiasan, dengan menggunakan hidroponik dalam pot, maka tanaman akan selalu tampak bersih sehingga peletakan tanaman dalam ruangan akan lebih fleksibel. Selain itu dalam menempatkan pot-pot hidroponik untuk mendesign interior ruangan rumah akan bisa lebih leluasa. Bila tanaman yang digunakan adalah tanaman bunga, untuk bunga tertentu bisa diatur warna yang dikehendaki, tergantung tingkat keasaman dan basa larutan yang dipakai dalam pelarut nutrisinya. Penggunaan tanaman buah-buahan seperti kedondong bangkok misalnya, akan bisa menghasilkan penampakan tanaman yang dapat berbuah lebat sepanjang waktu. Kuncinya adalah dengan mengatur C/N ratio, yakni melalui pemangkasan pada cabang, batang dan daun yang tumbuh berlebihan. Disamping, pemangkasan juga akan merangsang pembungaan dan pembuahan.















III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu
            Praktikum Kapita Selekta Hortikultura yang berjudul “Budidaya Tomat Pada Media Hidroponik” dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Jember pada hari Rabu, 14 Oktober 2009 pukul 14.30 WIB.

3.2 Bahan dan Alat
3.2.1 Bahan
1.    Bibit tomat
2.    Nutrisi A, B Mix
3.    Pupuk Gandasil B/ Gandapan
4.    Pupuk NPK, Urea, KCL dan SP-18
5.    Media arang sekam, pupuk organik (bokashi) dan pasir steril
6.    Polybag 40 x 35 cm
7.    Insektisida dan fungisida
8.    Ajir bambu (4 buah panjang ± 2 m)
9.    Rafia

3.2.2 Alat
1.    Alat ukur volume cairan
2.    Cetok
3.    Timba plastik
4.    Cutter
5.    Penggaris

3.3 Cara Kerja
3.3.1 Penyiapan Media Dan Bahan
1.    Menyiapkan media tanam arang sekam, pupuk organik dan pasir steril dalam polybag 40 x 35 cm perbandingan media 1 : 1 : 1.
2.    Menyiapkan larutan nutrisi A B Mix dalam 30 liter air.
3.    Menyiapkan pupuk NPK, Urea, KCL dan SP-36.
4.    Menyiapkan nutrisi Gandasil B / Gandapan, Insektisida dan fungisida.

3.3.2. Penanaman Dan Pemeliharaan
1.    Masukkan media tanam ke dalam polybag sampai 3/4 bagian dan pasang ajir pada polybag lalu ikat dengan rafia.
2.    Tanam bibit ke dalam media dengan terlebih dahulu melepaskan polybag bibit.
3.    Memadatkan media di sekitar pangkal bibit.
4.    Menyiramkan media dengan air bersih.
5.    Melakukan penyiraman nutrisi A, B Mix.
6.    Melakukan pemupukan dengan NPK, Urea, KCL dan SP-36.
7.    Melakukan perawatan yaitu: Membuang tunas-tunas air, melakukan pengikatan batang ajir, pengendalian OPT.
8.    Parameter pengamatan tinggi tanaman, jumlah ruas, jumlah daun lingkar buah dan jumlah bunga.
















DAFTAR PUSTAKA

Agoes, H. 2000.  Mengenal Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Jakarta. Agromedia Pustaka.

Anonim. 2006. Budidaya Tomat Secara Komersial. Jakarta. Penebar Swadaya.

Anonim. 2007. Panduan Lengkap Budi Daya Tomat. Jakarta. Agromedia Pustaka

Siswadi. 2008. Berbagai Formulasi Kebutuhan Nutrisi Pada Sistem Hidroponik. INNOFARM : Jurnal Inovasi Pertanian Vol. 7, No. 1, 2008 (103-110).

Susila, A. 2006. Panduan Budidaya Tanaman Sayuran. Bagian Produksi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura. IPB.

Wijayani,  A. dan Wahyu, W. 2005. Usaha Meningkatkan Kualitas Beberapa Varietas Tomat Dengan Sistem Budidaya Hidroponik. Ilmu Pertanian Vol. 12 No.1, 2005: 77 – 83.


Menanam Tumbuhan dengan Hidroponik

By : Unknown

Cara Menanam Tumbuhan dengan Hidroponik



Cara Menanam Tumbuhan dengan Hidroponik
CaraKomplit.com – Cara menanam hidroponik telah dikenal sejak lama, bahkan semakin populer selama beberapa tahun terakhir. Salah satu kelebihan bercocok tanam dengan teknik hidroponik adalah pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat sekitar 30 hingga 50 persen dibandingkan menanam dengan media tanah. Hasil yang didapatkan juga relatif lebih banyak. Ada beberapa hal yang menyebabkan menanam hidroponik lebih unggul daripada teknik penanaman lain, salah satunya adalah oksigen ekstra yang terdapat di dalam media pertumbuhan membantu akar tanaman tumbuh lebih cepat. Semakin banyak kadar oksigen di dalam akar, semakin cepat pula penyerapan nutrisinya. Oleh sebab itu pertumbuhan tanaman juga menjadi lebih cepat. Nutrisi yang diberikan akan langsung menyatu dengan air dan diserap oleh tumbuhan. Tumbuhan tidak perlu lagi mencari-cari nutrisi seperti jika menanam dengan tanah. Kelebihan lain dari teknik menanam hidroponik adalah tumbuhan lebih kuat terhadap serangan berbagai jenis penyakit, seperti hama dan jamur.

Media penanaman

Anda harus memilih media tanam yang tepat agar akar tanaman mendapatkan udara yang cukup. Ada berbagai media tanam yang bisa diterapkan untuk sistem hidroponik. Salah satu contohnya adalah media yang cepat mengalirkan air dan air seperti hidrocorn atau serpihan-serpihan sangat baik untuk tipe sistem aliran. Karena bentuknya yang berongga memungkinkan oksigen untuk mengalir lebih banyak di dalam media. Ini akan membuat akar tanaman penuh dengan oksigen dan membantu penyerapan nutrisi. Kedua media ini bisa dipakai berulang-ulang, namun hydrocorn biasanya lebih awet.
Media lain yang bisa anda coba adalah rockwool, ini adalah media tanam yng dibuat dari bebatuan vulkanis dan batu kapur. Pembuatan media ini adalah dengan melelehkan bahan pada suhu tinggi, kemudian lelehan tersebut dipintal menggunakan alat khusus, seperti proses pembuatan kapas. Setelah itu bahan dibentuk menjadi kotak atau lembaran-lembaran. Kelebihan dari media tanam ini adalah mampu menahan air 10-14 kali lebih banyak dan 20% udara. Namun kelemahannya adalah bahan ini memiliki pH sekitar 7.8 sehingga bisa menaikkan PH dari nutrisi yang kita berikan pada tanaman. Saat menanam dengan media ini, anda harus memberikan perhatian lebih terutama masalah pH. Bahan lain yang juga dipakai untuk menanam hidroponik adalah perlit, vermikulit, dan beberapa macam pasir.

Nutrisi untuk tumbuhan

Setelah memilih media tanam yang tepat, selanjutnya anda harus memilih nutrisi untuk tumbuh kembang tanaman anda. Nutrisi yang diberikan pada tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik sama saja dengan nutrisi untuk budidaya dengan tanah. Anda bisa mendapatkan nutrisi ini di toko-toko khusus hidroponik. Kebanyakan nutrisi ini dijual dalam bentuk konsentrat, jadi anda perlu menambahkan 1 galon air untuk setiap 2-4 sendok teh nutrisi. Produk ini biasanya memiliki bentuk cair dan terbagi atas 2 macam, nutrisi untuk pertumbuhan, dan nutrisi untuk pembungaan. Nutrisi dalam bentuk cair biasanya lebih mahal, namun lebih mudah dipergunakan. Selain itu nutrisi ini lebih mudah larut dalam air dan beberapa sudah ditambahkan dengan penjaga PH.

Pengaturan PH

Kebanyakan tanaman hidroponik tumbuh dengan baik dalam pH 5.8 hingga 6.8. Sedangkan pH terbaik adalah 6.3. Saat menanam tumbuhan dengan hidroponik, kita jadi lebih mudah mengecek pH air dibandingkan dengan jika kita menanam tumbuhan dengan media tanah. Anda bisa mengukur pH dengan kertas indikator pH yang banyak dijual di toko-toko. Mengukur pH sangat mudah namun juga merupakan proses terpenting dalam budidaya hidroponik. Jika pH di bawah rata-rata, silakan tambahkan larutan potas untuk menaikkannya. Sedangkan untuk menurunkan pH, anda bisa memakai asam fosfat.
Nah, jika semua sudah siap, sekarang bisa anda mulai menanam dengan teknik hidroponik. Mulai dari penyiapan wadah (botol bekas, pipa, dll), memasukkan media tanam (rockwool, hydrocorn, dll),  penyemaian benih, pemberian nutrisi, dan perawatan. Selamat mencoba…
- See more at: http://www.carakomplit.com/flora-fauna/cara-menanam-tumbuhan-dengan-hidroponik#sthash.V5Fj5CRo.dpuf

- Copyright © danianggara - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -